Wednesday, August 11, 2010

Every man can fly anywhere

I just read a book tittled AQUILA recently. The book is a winner of Whitbread Award and the author is Andrew Norriss. It is published by the Puffin book.

The book is for teenager actually. I read it becaus I want to practice my english. I tought it was just like some other children books, fun, imaginative and simple. Well I was wrong. It is a very wonderfull story. The idea is very brlliant.

The story is about two unique students who found flying saucer named Aquila in a cave left by a dead man body next to it. They are unique because they never really get into with the schools activity. But since they found Aquila the atmosphere they brought into class is changing. The show great anthusiasm in some topics like geography, maths and physics related to the problems they found to work with Aquila.
They even almost start to learn Latin when they found that it can talk.
These unbelievable habit trigger the teachers' curiosity. They want to know what make them change. Until the teachers finally found their diary and read some remarkable exerience written on it, still they do not realize that there was such a thing like Aquila. They keep thingking it was only an imagination created by the two boys.

This is an interesting words I found in the book and I like it.

"A man can fly anywhere, if he rides on the back of eagle.
That is how you get to do what you want in life. You decide where you want to go, and you find yourself an eagle. Eagles come in many forms, but they all have one thing in common. They carry you the places you could not get to on your own. Sometimes to places you never even thought possible.
They do not always have feathers and wings. Some of them even look like schoolteachers."

(Andrew Norris from AQUILA p. 128)

Tuesday, August 10, 2010

http://www.britishcouncil.org/learning-eltons

From the british council. Please take a look.

From My Dad

Ayah sent me message on my fb, sunday, 8 August 2010

Bergembira dg datangnya ramadhan.Marhaban ya ramadhan.Sudah punya paket cita-cita yang akan direbut melalaui ibadah ramadhan ?Jangan lupa ya, peluang sangat banyak,dan para malaikah mengiringi siapa saja yang sungguh-sungguh.Sayangnya tidak terlihat oleh mata zahir,tapi jelas terlihat oleh mata batin yang beriman.Dg ketekunan ananda bisa merasakan,melihat,dan meyakini, betapa beruntungnya yang sukses dalam ibdah ramadhannya.Teman ayah mengirim sms.bunyinya; Mohon perhatian...!Diberitahukan kepada para penumpang pswt"Ramadhan Air"dg no penerbangan"1431 H". Bahwa perjalanan akan ditempuh dalam waktu satu bulan penuh.Ketinggian jelajah amal ibadah di "LIPAT GANDA" kan, dengan tujuan "TAQWA" Para penumpang diharap tetap mengenakan sabuk "AMANAH" dan menegakkan kursi "IMAN" , "SABAR" dan "IKHLAS" Penerbangan ini babas dari asap "DENGKI dan PERSELISIHAN" Atas nama awak kabin yg bertugas, kami mengucapkan; "SELAMAT MENIKMATI BONUS LAILATUL QODR" , SEMOGA SELAMAT SAMPAI TUJUAN." AMIN ....ALLOHUMMA ...AMIN...MARHABAN YA RAMADHAN. Mhn maaf apabila ada kakhilafan. Salam pada semua teman Dinda pencinta PESAWAT RAMADHAN.

Encouragement by Rhenald Kasali

Encouragement by Rhenald kasali
Thursday, 15 July 2010

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah
tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu
telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali.
Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya
dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan
itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan
itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai
buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah
pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai
tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu
guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?"
"Dari Indonesia," jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.
Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap
simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang
anak-anaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit
memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum,
melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!" Dia pun
melanjutkan argumentasinya.

"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak
sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris,
saya dapat
menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa
Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran
kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang
bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di
Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman
drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya
pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar
siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya
dan
penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan
jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang
saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal
sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah
ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan,
penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap
seakan-akan
kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi
yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut
hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement,
melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan
yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan
ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana
guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah
anak-anak di sana mampu
menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.
Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan
karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke
pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita
mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di
depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor
anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun
rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang
mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah
memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah
telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak
saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di
tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia
pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi
saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang
berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan
rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh
sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur,
dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan
seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...;
Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas
kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi
lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan
mengendurkan
semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak
manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,
dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan
(dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian
kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang
sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau
bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan
ancaman atau
ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau
memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

ANAK


From the neighbour:

ANAK

Hampir tiap hari kita menyaksikan anak-anak yang dihilangkan. Orang-orang dewasa telah menguasai mereka. Di layar televisi, mereka dibikin menyanyi seperti para biduan komersial menyanyi, berkhotbah seperti para kiyai berkhotbah, bersaing seperti para pecundang dewasa bersaing.

Mereka dicetak. Model mereka bukan datang dari imajinasi sendiri. Mereka dikepung. Di rumah, di sekolah, di tempat ibadah, anak-anak harus mengikuti apa yang dipetuahkan. Si bocah mesti menuruti tatanan simbul-simbul yang dijadikan sendi kehidupan ibu-bapa.

Tentu, masih ada dunia fantasi mereka sendiri. Tapi inipun sebagian besar sudah dibentuk oleh selera orang-orang yang punya pengaruh: pemilik taman hiburan, entrepeneur baju dan sepatu, industri mainan, produser acara TV, pengelola jasa-jasa iklan, pengarah kindergarten dan sekolah dasar.

Lewat itu semua, tiap hari anak-anak sedang hendak dihilangkan.

Mungkin ini tanda-tanda dua masa yang cemas.

Yang pertama masa ketika kita cemas kalau-kalau sebuah generasi baru akan meninggalkan tradisi — sisa simptom masyarakat petani yang berubah. Dalam masyarakat agraris, ketika perubahan teknik dan nilai-nilai hampir tak terasa, orang bisa bertahan dengan ingatan dan masa lalu kolektif. Mereka gentar kepada yang baru, malah mungkin tak merasa butuh dengan yang baru.
Tapi masa ini juga masa ketika modal, persaingan, perbedaan, dan perubahan mendesak. Merasa dilecut, orang-orang tua dengan agak gugup dan tak sabar mempersiapkan anak mereka untuk masuk ke dunia yang baru – tapi yang sebenarnya bukan dunia anak-anak.

Di tengah kecemasan itu, anak hanya diberi, tapi dengan sikap mendua. Sang pemberi, si orang tua, merasa diri berkorban, dan dengan pengrobanan itu memposisikan diri lebih mulia.. Saya kira ambivalensi itulah yang tercermin dalam satu sajak Amir Hamzah yang ditulis di tahun 1930-an:

Anak lasak mengisak panjang

Menyabak merunta mengguling diri

Kasihan ibu berhancur hati

Lemah jiwa karena cinta

Sajak itu mencerminkan pandangan orang tua: si bocah dinilai lasak dan manja, dan orang tua dinyatakan penuh ikhlas melayani. Tapi tak ada peluang si anak untuk menampilkan sudut pandangnya. Amir Hamzah, seperti banyak sastrawan Indonesia lain, tak menghadirkan karya dengan perspektif anak-anak yang menggugat kearifan orang dewasa – satu hal yang kita temukan dalam Pangeran Kecil Antoine de Saint-Exupèry.

Maka bukan hal yang mengherankan anak-anak disisihkan tiap hari.
Tapi agaknya bukan hanya Indonesia yang menyaksikan ketersisihan itu. Di awal abad ke-20, ketika kapitalisme industri makin kukuh, Eropa merasakan hilangnya saat-saat anak –hilangnya suasana ketika kita bisa, (dalam kata-kata Tagore), ”duduk di atas debu, bermain dengan ranting patah sepanjang pagi”.

Kian lama kehidupan kian ditentukan oleh “hasil”, “guna”, “perhitungan”, “efisiensi”, dan aturan-aturan yang pakem. Orang ingin terus menerus menguasai ruang dan waktu. Maka, yang semula hidup dibuat beku. Cara pun jadi formula, alam jadi proyek, ibadah jadi ritual, yang disembah jadi berhala, kesenian jadi klise, dan benda yang akrab ke dalam hatiku cuma jadi benda yang tiap saat bisa dipertukarkan dengan benda lain. Mungkin inilah yang disebut Hegel sebagai “kehidupan yang bergerak sendiri tapi sebenarnya tersusun dari bentuk-bentuk yang mati,” ein sich in sich selbst bewegende Leben des Todes.

Pada saat itulah kalkulasi jadi paradigma. “Orang dewasa,” kata sang Pangeran Kecil dalam karya de Saint-Exupéry itu, “menyukai angka-angka”. Orang dewasa (sebuah kiasan untuk “orang modern” atau lebih tepat “borjuis”) hanya mampu melihat setangkai mawar sebagai eksemplar dari mawar yang lain. Dengan kata lain, “mawar” telah jadi konsep yang abstrak, bukan kehadiran yang singular dan tak terbandingkan.

Pangeran Kecil sebenarnya sebuah penyesalan. De Saint-Exupéry menyesali hilangnya sebuah dunia di mana imajinasi bebas jadi paradigma.
Imajinasi bebas itu, bagi para penyair, ditauladankan oleh keasyikan anak-anak. Sebelum Tagore dan de Saint-Exupéry, Rilke sudah mengemukakan hal itu, di tahun 1901: hanya anak, bukan orang dewasa, yang dapat menemukan keindahan “dalam sekuntum bunga, dalam sekerat batu, dalam kulit kayu, atau di sehelai daun birka”. Orang dewasa tak mungkin merayakan benda-benda sepele itu. Mereka, tulis sang penyair, hanya “berkisar dalam urusan dan kecemasan, seraya menyiksa diri sendiri dengan segala detail.”

Tapi Rilke juga menyadari: pada gilirannya anak-anak berubah. Kita telah mengubah mereka. Kita telah menggantikan pandang mereka yang intuitif dengan pandang yang rasional. Mereka kita dorong memandang bunga, batu, daun sebagai benda mati yang bisa dimanfaatkan. Maka hadirlah kebekuan. Rilke mengungkapkannya dalam Elegi ke-8 dari seri Elegi Duino yang terkenal itu:

… sebab telah kita balikkan arah anak-anak memandang

Hingga ia menatap ke belakang, ke arah apa yang mapan

Bukan ke sana yang terbuka, yang tersembunyi

Dalam tatapan hewan: bebas dari kematian.

Dan hampir tiap hari kita menyaksikan anak-anak yang dihilangkan.



~Majalah Tempo Edisi Senin, 26 Juli 2010~

Sunday, August 8, 2010

Madania Grade 8 Students won Lomba C3KaT Geospasial in Student Day of the 5th IGTE 2010




Last Friday, July 30th 2010, Madania grade 8 students joined a competition hosted by Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional ) in Balai Kartini. The competition was Lomba C3KaT (Cerdas Cermat Cepat Kreatif Tepat) Geospasial in Student Day of the 5th IGTE (Indonesian Geo-Information Technology Exhibition) 2010. This was about understanding how to read maps, knowing places and Geography itself. The theme of the activity was Geospatial… Rock On! The team members were Bramantha Jiwandaru (8D), Jonathan Kennard (8D) and M. Afif Rahardian (8R)
They named our team GeoMad and Alhamdulillah, Geomad won the competition as the first winner of twenty three participants from around 18 schools in Jabodetabek.
The competition consisted of three rounds; Ngeriung, Berlaga and Bergaya. There were three parts of each round. In the first round, they had to answer 20 questions, 10 questions were answered by choice and the rest by short answer. Some of the questions were; what country that has the same flag color with Indonesia? (Monaco) and what is the name of traditional house in Papua? (Honai). Where can you find Loncat Batu tradition? (Kepulauan Nias). Ngeriung round is the elimination round. They must achieve the score not less than 6 to be in the second round. In the second round Berlaga, there were 16 teams left. The team had to do three activities; completing puzzle of picture of islands, making a sketch of map using scale and dressing a model like a scout in UP movie. In this round, MadGeo got the perfect score of 100 so they could be in the final round Bergaya. There were four teams left in Bergaya; two schools of BPK Penabur Jakarta, one school of Islamic Middle school in Jakarta and Madania. Sitting as the leader of the team was Jonathan Kennard. In this round the team had to answer the questions as fast as they can. There was not reduced score for the wrong answer and they could get score from other team’s questions. There were about 20 questions like; what was the imaginary line that separates the Asian and Australian fauna? What was the imaginary line that shows the land height? It was quite astonishing how each team tried to rise their score. Madania almost lost the score because we got the flute for the bell while the others were maracas, mini tambourine and triangle. After one of the parents suggested the committee that the different bell was not fair enough for each team, Madania achieved back their score. The final score was 150 for Madania and 140 for BPK Penabur Jakarta and the other two was 100 and 80.
Thank you for all the support that the parents gave to Madania team in Lomba C3Kat Geospasial. They helped the students a lot preparing for the competition.